Tentang Rasa
Ini
hanyalah ungkapan mengenai perasaan yang kusimpan. Rasa yang mendekap dalam
hati. Awalnya hanya perasaan biasa. Namun, lama kelamaan rasa itu mulai
mengganggu. Kuharap tidak sampai mengganggu kewajibanku dalam dakwah.
Selasa,
29 November 2012.
10.00 pm
Entah kenapa, perasaan kepada ‘Aiba’ semakin lama semakin
mengganggu.
Malam ini aku merindukannya. Aku tidak tahu kenapa.
Semakin aku menghindar, semakin ak yakin akan perasaanku.
Bukan sebagai fans kepada idolanya. Melainkan, perasaan untuk
bersama.
Tapi, ada penghalang yang menghalang.
Bukan umur. Bukan status sosial. Bukan negara.
Sesuatu yang lebih besar dari itu semua.
Mabda.
Ya, mabda kami berbeda.
Bagaimana mungkin kami dapat mendayung bahtera agar sampai ke
tempat tujuan dengan cepat, sedangkan tujuan kami berdua berbeda.
Nafsu dan akalku akan kupaksa tunduk kepada Syariah Islam.
Walaupun harus mengorbankan perasaanku.
Gomenne aiba-kun. Aku terlanjur menyukaimu.
Kuharap kamu dapat tersentuh dan memeluk mabda Islam.
Mabda yang memberi gejolak lebih dahsyat dari Badai.
Rabu, 30
November 2012.
07.30 pm
Nihon, kapan aku bisa kesana?
Melangkahkan kaki dan berdakwah disana.
Aku diberitahu teman sekamarku tentang keadaan disana.
Keadaan khusus untuk para Muslimah.
Seorang wanita muslimah yang mengenakan kerudung, dikatakan aneh
oleh masyarakat disekelilingnya.
Muslimah itu jadi takut keluar kost.
Malas melakukan aktivitas lain.
Dan, untuk seorang Muslimah yang menutup auratnya, mengenakan
kerudung, ataukah jilbab, sulit untuk beradaptasi dan mencari kerja.
Hanya dalam bidang akademik dia bisa bergerak.
Selainnya, harus membuka kerudungnya.
Aku terkejut. Lumayan kaget.
Ada getar khawatir dimata teman sekamarku.
Tapi, dia tetap bersikeras kesana. Bersikeras berdakwah di Jepang,
Aku pun tidak akan gentar.
Walaupun dikatakan aneh, tidak bebas bergerak di semua tempat,
aku tetap akan ke Jepang
Ya Allah. . . izinkan tanganku ini mengajak mereka dalam cahaya
Islam
Ya Allah. . . izinkan lidah ini menyampaikan kebenaran Islam
pada mereka
Ya Allah. . .berikan kekuatan kepada hamba untuk tetap istiqomah
dalam dakwah.
Bertahan dalam medan laksana Badai.
Bertahan dalam kondisi apa pun.
Harus bertahan sampai tidak bisa lagi bertahan.
Saat jiwa ini harus kepangkuan-Mu.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar