Fiksi Zone


Cerpen


Sebenarnya, tulisan ini sudah pernah di kirim ke salah satu media. Tapi, sampai tulisan ini di post-kan belum pernah digubris. Jadi, dengan bantuan bola dragonball aku menghidupkan tulisan ini dalam rubrik pribadiku. hehehe.
semoga bermanfaat. *_*



Jawaban untuk Fathur
(Oleh: Kakak yang mendengar dari balik pintu)

Kecerdasan seseorang tidak diukur dari banyaknya pertanyaan yang mampu ia jawab.
Melainkan, dari kualitas pertanyaan yang dihasilkan dari pikirannya.
Tapi, jika pertanyaan berkualitas itu tidak bisa dijawab,
Lalu, untuk apa dia bertanya?
Yang diinginkannya hanya satu.
Jawaban dari pertanyaannya.
           
Hari itu minggu pagi. Hari libur untuk segala aktivitas. Hari yang sering digunakan untuk bersantai ria dan bermalas-malasan seharian penuh. Hari yang dapat membuatmu lupa kalau besok adalah hari senin yang dipenuhi dengan berbagai tugas dan kewajiban. Suasana pagi itu mulai cerah. Matahari mulai menampakkan dirinya dari balik awan. Walaupun sudah pukul sepuluh pagi, tapi Matahari masih enggan menampakkan seluruh sinarnya. Mungkin karena semalaman hujan deras turun membasahi bumi. Mendinginkan suhu bumi yang selalu terasa panas. Mulai dari pukul tiga dini hari sampai pukul delapan pagi. Tak heran, banyak yang kembali merebahkan dirinya dalam hangatnya balutan selimut. Menghindari serangan dingin yang menusuk sampai ketulang terdalam. Menutup mata kembali. Menambah jam tidur lebih lama dari biasanya. Bersembunyi dalam pulau kapuk di negeri mimpi. Menganggap matahari adalah bulan purnama. Membuat hari libur menjadi hari yang tenang, damai dan dingin. Dan akhirnya, kebiasaan itu terbawa sampai pada pagi senin. Kata terlambat dan bangun telat memang tidak bisa pergi jauh darinya. 
            Tapi, tidak untuk keluarga Usman. Ba’da shubuh, mata mereka tidak ada yang terpejam. Walaupun minggu itu tidak ada kewajiban yang harus dikerjakan, tapi mereka tidak peduli. Bagi mereka, tidur habis subuh adalah hal yang tidak akan mereka lakukan. Karena itu membuang-buang waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk menambah pengetahuan diri atau mengerjakan tugas-tugas yang belum selesai serta dapat menutup pintu rezeki yang telah terbuka lebar.
            Pagi itu, keluarga Usman baru selesai sarapan. Mereka memulai aktivitas pagi itu di teras rumah. Menyambut pagi yang kelihatannya damai tanpa ada masalah. Usman, sang Ayah melakukan aktivitas yang biasa dia lakukan dipagi minggu. Membaca surat kabar ditemani kopi hitam panas dan hembusan angin pagi yang menyegarkan. Fathur Rahman-anak bungsunya-pun tidak mau ketinggalan. Dia duduk dikursi tepat di samping ayahnya. Dia mengikuti Ayahnya membaca surat kabar yang terbit untuk hari itu. Keluarga Usman memang berlangganan lebih dari satu surat kabar. Agar mendapat info yang lebih banyak dan lebih akurat. Fathur, bocah berusia 12 tahun yang baru duduk di kelas 6 SD terlihat sangat serius membaca surat kabar yang ada dihadapannya. Dia membalik-balik halaman surat kabar itu. Ada kerutan di dahinya. Sepertinya memikirkan apa yang baru saja dibacanya. Di usianya yang sudah 12 tahun, membuatnya tidak hanya bisa membaca dengan benar. Tapi, mengerti apa makna yang sedang dibacanya. Kerutan di dahinya menandakan kalau dia sedang memikirkan  tulisan-tulisan yang sedang dibacanya. Entah apa.
            Ibu yang datang dari arah dalam rumah membawa segelas susu hangat dan sepiring ubi jalar rebus yang sepertinya baru matang. Menu cemilan kesukaan Ayah. Ayah paling suka minum kopi hitam panas ditemani dengan Ubi jalar rebus yang masih panas. Katanya, Ubi jalar adalah menu cemilan yang simple dan menyehatkan. Jauh dari bahan pengawet dan zat-zat kimia yang tidak menyehatkan. Ibu meletakkan Ubi jalar dan segelas susu di meja dekat Ayah dan Fathur. Ibu duduk memperhatikan keseriusan Fathur membaca surat kabar yang di tumpuk dan seperti dihambur memenuhi atas meja. Sepertinya dia asyik sekali.
            “Adik baca apa? Sepertinya seru sekali.” Tanya Ibu dengan lembut melihat kearah Fathur yang dipenuhi surat kabar.
            “Membaca tentang nasib negara adik. Kok ngga ada yang baik, ya?” jawabnya tanpa memalingkan wajah dari surat kabar yang ada dihadapannya. Ibu dan Ayah saling berpandangan mendengar jawaban dari anak bungsunya.
            “Mungkin karena banyaknya hal buruk yang terjadi, sehingga menutupi hal baik. Atau, karena memang sudah tidak ada hal baik lagi.” Komentar Ibu. “kalau adik menemukan hal baik, beritahu Ibu, ya?”
            “Ya.” Masih fokus dengan bacaannya. Dia membalik lembaran surat kabar lagi. Kemudian berpindah ke surat kabar yang lain.
            Ibu berdiri dan mengambil teko air untuk menyiram tanaman. Kemudian menyirami tanaman yang hampir mengelilingi teras rumah mereka. Tanamannya berupa bunga-bunga tropis yang sedang mekar. Tiba-tiba, terdengar suara Fathur yang bertanya ke Ayahnya. Pertanyaannya benar-benar mengagetkan. Tapi, Ayah dan Ibu sudah terbiasa mendengar pertanyaan aneh dan mengagetkan yang keluar dari mulut anak bungsunya. Karena suatu pertanyaan biasanya muncul dari proses berpikir. Itulah mengapa, jika ingin mengetahui kecerdasan seseorang, dilihat dari kualitas pertanyaan yang dilontarkannya.
            “Abi, bisa antarin adik ke Mahkamah Agung, kah?” pertanyaan aneh dan membingungkan. Tapi, Fathur terlihat serius dengan pertanyaannya. Tidak ada mimik bercanda dalam wajahnya. Matanya menatap mantap wajah Ayahnya.
            “Untuk apa, dik?” Ayah menghentikan membaca koran ditangannya dan memperhatikan wajah anaknya. Fathur memang sering bertanya hal-hal yang aneh dan membingungkan. Mulai dari hal, kenapa pakaian Abi dan Umi berbeda?, kenapa kita harus sholat? Sampai pada pertanyaan, Kenapa kebahagiaan rakyat harus diwakilkan oleh wakil rakyat? Apa jika wakil rakyat dipenuhi dengan fasilitas mewah rakyat akan bahagia? Dan, kenapa Undang-undang harus selalu di amandemen? Apa undang-undang kayak roti tawar, mudah kadaluarsa? Rasa ingin tahunya benar-benar besar. Dan jika tidak dijawab, dia akan menanyakannya terus-menerus kepada setiap orang dewasa yang ditemuinya sampai dia mendapatkan jawaban. Dan pertanyaan yang baru dilontarkannya pun pasti harus dijawab.    
            “Untuk nuntut pemerintah, Abi.” Jawabnya datar. Ayah menghela napas dan wajahnya terlihat bingung. Ibu yang sedang menyiram tanamannya terhenti sejenak. Dia melihat kearah Ayah dan Fathur. Pagi itu memang dingin. Angin berhembus sepoi-sepoi menggerakkan tangkai-tangkai dari bunga tropis yang sedang Ibu siram. Tapi, tidak untuk Fathur. Dilihat dari gelagatnya, dia sama sekali tidak merasakan dingin. Ibu juga penasaran apa jawaban suaminya untuk pertanyaan anaknya yang satu ini. Tentunya jawaban yang benar dan sesuai realita yang ada.
            “Memangnya apa yang dilakukan pemerintah sama adik? Kok adik sampai mau nuntut pemerintah?” tanya Ayah tetap menggubris anaknya. Dia tidak ingin membuat anaknya kecewa dan menghentikan kreatifitas anaknya yang sedang tumbuh.  
            Fathur menarik napas panjang. “Pemerintah sudah mencabut subsidi yang seharusnya milik adik. Mengambil uang yang seharusnya milik adik buat sekolah dan berobat dengan gratis. Membiarkan teman-teman adik menyeberangi sungai dengan tali. Membebaskan maling-maling yang mencuri uang adik dan teman-teman adik. Terus, pemerintah juga menjual barang-barang berharga milik adik dan teman-teman adik tanpa izin. Emas adik, batu bara adik, gas adik, minyak adik, pulau adik, laut adik, semuanya dijual. Sebelum adik dijual, adik pengen nuntut pemerintah.” Jelas Fathur panjang lebar.
            Ayah tersenyum mendengar pernyataannya anaknya. Tapi sebenarnya, dalam hatinya teriris. Dadanya benar-benar sesak. Anaknya yang baru berusia 12 tahun harus merasakan ganasnya sistem yang menyelimuti mereka. Sebagai Ayah, dia tidak ingin anaknya ikut menderita. Jika bisa, biarkan penderitaan yang dihasiilkan dari sistem ini ditanggungnya sendiri. Tapi, itu tidak mungkin dan dia pun tidak sanggup untuk itu. Tanpa dia beritahu, anaknya akhirnya mengerti kalau negerinya ini dipenuhi penyakit yang mematikan. Yang jika dibiarkan lebih lama lagi, akan membunuh seluruh penduduk yang ada didalamnya. Namun, yang lebih menyakitkan hatinya adalah jawaban untuk anaknya. Realita yang benar-benar terjadi di negerinya. Dengan berusaha tenang, Ayah menjawab komentar anaknya.
            “Abi bisa ngantar adik ke Mahkamah Agung. Tapi, di Mahkamah Agung tidak ada hakim yang bisa mengadili pemerintah.”
“Kenapa? Bukankah Mahkamah Agung itu pengadilan?”
Ayah tersenyum. Dia melipat koran yang dipegangnya. Dan meletakkannya diatas meja dekat dengan Ubi jalar yang masih mengepulkan asap. “Mahkamah Agung memang pengadilan. Tapi, disana tidak ada keadilan.”
            Dahi Fathur tambah berkerut. “Lalu, nasib adik gimana, Abi?”
***

                   Tulisan kubuat saat malam tak bisa membuatku tidur.
Karena ku tahu, mimpi buruk itu kini telah keluar ke dunia nyata. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar