Way Out
Saatnya kembali pada Syariah yang Mulia
Selasa, 27 Mei 2014
Kamis, 18 Oktober 2012
BUKAN SUMPAH PEMUDA.
Setiap orang Indonesia yang update dengan tanggalan yang ada
dirumahnya, pasti tahu hal yang bersangkutan dengan bulan ini. Tidak tahu juga
tidak apa-apa, toh ngga masuk dalam Ujian Nasional. Hahaha. Karena aku orangnya
baek, jadi akan aku beritahu hal terkait bulan ini. Yapz, tepat tanggal 10
oktober akan diperingati hari Sumpah Pemuda. Sumpah yang katanya sumpah suci
Pemuda Indonesia.
Sayangnya, aku tidak akan membahas hal-hal terkait Sumpah
Pemuda. Alasan pertama, karena aku bukan ahli sejarah. Bukan tidak suka dengan
sejarah, hanya malas membaca sejarah yang isinya penuh dengan kebohongan.
Alasan kedua, karena tulisanku ini bukan tentang Sumpah Pemuda. Sesuai judul
diatas. Bukan Sumpah Pemuda. Tapi, tulisanku hanya terkait tentang peran
penting yang dilupakan pemuda. Tentang apa sieh, alasan sebenarnya dia hidup.
Khususnya sebagai Pemuda. Karena
sebagian Pemuda ada yang tidak tahu, jadi kusarankan untuk membaca tulisanku
ini. Dan untuk pemuda yang sudah tahu alasann hidupnya, kusarankan juga untuk
membaca tulisanku. Karena aku sudah sengaja meluangkan waktuku untuk membuat
tulisan untuk kalian baca. Bukan memaksa, hanya menyarankan.
Baiklah, basi-basanya cukup sampai sini. Tidak bisa dipungkiri, sebagian
besar Pemuda Indonesia tidak bisa dijadikan penerus generasi. Terlalu banyak
gelar negatif yang disandangkan pada namanya. Bukan karena dia sebagai korban,
tapi karena memang mereka pelaku utamanya. Dan mirisnya, mereka sadar dan tidak
dalam keadaan terpaksa dengan apa yang mereka lakukan. Mulai dari aktivis
pergaulan bebas, pemberontak, tauran, pecandu obat-obat terlarang, pembolos,
pemalas dan lain sebagainya. Pemuda seperti ini yang akan melanjutkan
peradaban? Apa kata dunia??? Generasi yang seharusnya menjadi pemimpin
peradaban, malah menjadi sampah peradaban. Kehadirannya hanya akan menambah
rusak peradaban yang telah dirusak oleh orang-orang sebelum mereka. Nauzubillah
min zallik.
Satu hal yang penting dan mendasar untuk ditanamkan dalam
kehidupan seorang Muslim sejak awal adalah penanaman aqidah. Karena merupakan
konsekuensi dari keyakinan pada aqidah Islam.
Pemuda yang memiliki idealisme adalah pribadi tangguh, yang
memiliki kepribadian Islam. Berpikir Islami dan berperilaku dengan standar
hukum-hukum Allah. Dengan modal ini, kalian akan mampu mengarungi hidup ini
dengan benar dan membawa kemaslahatan. Sayangnya, hal itu tidak bisa
teraplikasikan tanpa sistem yang mendukung. Sudah menjadi rahasia umum tentang
bobroknya sistem yang menyelimuti kita. Sistem yang menjadikan orang-orang
didalamnya melakukan kesalahan namun tidak merasa kalau itu sebuah kesalahan.
Sudah seharusnya kita menjadi pemuda Muslim terbaik, menyeru
kejalan Allah (dakwah), beramal sholeh dan bangga berjati diri Islam serta
mampu mempertanggung jawabkan dirinya dihadapan Allah. Wallahu alam.
Kamis, 11 Oktober 2012
Balon Galau
Buah karya Parangteris yang di
publikasikan di mading LPM
Beberapa hari yang lalu-entah kapan-seorang
akhwat dilanda kebingungan. Mungkin bahasa kerennya ‘galau’. Kenapa? Karena
penasaran dengan lagu anak TK yang telah dilupakannya. Saking penasarannya, dia
memburu kebenaran tersebut. Begini kisahnya;
(untuk keamanan, nama akhwat yang terlibat
disamarkan dengan nama pena anak LPM Inqilabi)
Sebut saja namanya Anak Panah.
Anak panah baru selesai menonton acara televise stand up komedi. Salah satu materi yang disampaikan membuat dia
galau.
“Tau ngga sih, anak Indonesia
sudah dibuat galau sejak mereka kecil?” katanya kepada teman-teman seasrama.
“Dibuat galau?” Tanya Breakfast
dengan alis berkerut.
“Ya.” Jawab Anak Panah Mantap.
Dari gelagatnya, sepertinya dia akan berorasi. “Coba deh kalian nyanyiin lagu Balonku
ada 5? Lagu itu membuat galau.”
Delik heran. Karena penasaran, dia
pun menyanyikan lagu anak TK tersebut. Dengan suara cemprengnya, dia mulai
mengeluarkan suara.
“Balonku
ada lima. Rupa-rupa warnanya. Merah, kuning, kelabu, merah muda dan biru.
Meletus balon hijau-“
“DOR!!!” Anak Panah tiba-tiba
menghentikannya. “Warna hijaunya dari mana?!” tanyanya langsung. Berarti
balonnya ada enam, kan? Bukan lima! Galau kan tuh lagu?” sambungnya.
Entah kenapa, delapan akhwat yang
berkumpul menyanyikan lagu itu bareng-bareng. Dibandingkan dengan tugas kuliah
yang menumpuk, mereka lebih peduli dengan lagu anak TK tersebut. Mungkin karena
masa kecil mereka kurang bahagia.
Akhirnya ada yang mendapat lampu
terang.
“A-ha. Aku tahu.” Kata Bintul
Kalam. “Dengar, ya?” perintahnya. “Balonku ada lima. Rupa-rupa warnanya. Merah,
kuning, kelabu, hijau muda dan biru. Meletus balon hijau. DOR!” dendangnya
dengan suara sumbang yang mengenaskan. “Ada warna hijaunya, kan?”
“Apanya yang hijau!” protes
Syam’ah Pen. “Yang meletuskan warna hijau. Bukan hijau muda. Walaupun sama-sama
warna hijau, tapi tetap aja beda.”
“Iya.” Gubris Parangteris. “Masa
lagunya jadi; balonku ada lima. Rupa-rupa warnanya. Merah, kuning, kelabu,
hijau muda dan biru. Meletus balon hijau muda, DOR! Jelek banget, kan?”
sambungnya. Tapi, yang lebih jelek lagi adalah suaranya.
Semuanya ribut. Kamar yang hanya
mampu menampung empat orang itu, risuh dengan suara sumbang akhwat-akhwat yang
dibuat galau dengan lagu anak TK. Dan ternyata, lagu itu jauh lebih menarik
dari pada konser Noah 5 negara.
“Dari pada bingung, lebih baik
kita cari lirik aslinya.” Kata Regae mengeluarkan pendapat. “Siapa pencipta
lagunya?” tanyanya kepada yang lain.
Dengan bantuan mbah google,
Regae mencari lirik asli dari balonku ada lima. Dan akhirnya, liriknya keluar.
Balonku ada lima. Rupa-rupa warnanya.
Hijau, kuning, kelabu, merah muda dan
biru.
Meletus
balon hijau, DOR!
“Oooooo…begitu.” Kata mereka
semua dalam satu suara.
“Segala sesuatu, memang harus
dikembalikan kepada penciptanya.” Celetuk Marjan. “karena pencipta yang lebih
tahu tentang ciptaannya.”
Benar. Jika lagu balonku ada
lima tidak dikembalikan kepada penciptanya, membuat sebagian akhwat Hamfara pada galau, apalagi yang
jangkauannya lebih luas. Lihatlah apa yang terjadi dengan dunia sekarang.
Sistem yang diterapkan didunia tidak dikembalikan kepada pencipta manusia,
membuat bukan hanya sebagian tapi seluruh
umat manusia sengsara. Lebih dari galau. Genosida diRohingya, Rohis dicap
teroris, kelaparan dimana-mana, pengangguran seperti jamur dimusim penghujan,
jamaah korupsi lebih banyak dari jamaah sholat jum’at, prostitusi dilegalkan,
pergaulan bebas dianggap wajar dan lainnya.
Dapat ditarik kesimpulan, jika ingin
membuat dunia ini sejahtera-bukan hanya dirasakan oleh manusia, tapi juga hewan
dan tumbuhan-maka, kembalikan segala sesuatu kepada penciptanya. Pencipta
manusia, jagat raya dan isinya. Allah SWT. Oleh Karena itu, maka terapkan
system yang telah ditetapkan oleh Pencipta manusia.
Jadi……..aku, kamu dan kalian
semua harus bilang “WOW. We need Khilafah.” Tapi, jangan hanya bilang. Buktikan
dan lakukan!
Senin, 20 Agustus 2012
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
Saudaraku seiman, semoga Allah menyinari hatimu setiap kali terbenam matahari dan bulan
semoga Allah menghilangkan kegalauanmu setiap kali gelombang ujian menerjang.
semoga Allah menjadikan keturunanmu seperti Abu Bakar dan Umar
semoga Allah memperbanyak orang-orang yang dicintai olehmu dan mencintaimu karena Allah,
serta sepanjang tahun kau selalu dalam keadaan baik.
Semoga pasca Ramadhan semakin mengokohkan perjuangan kita untuk tegaknya syariah dalam bingkai Khilafah. Allahu akbar!!!
Minal aidzin wal faidzin.
Mohon maaf lahir dan batin.
Selamat hari Raya Idul Fitri 1433 H.
Sabtu, 14 Juli 2012
Kesejahteraan Ekonomi Masa Khilafah
Perkembangan Daulah Islam yang semula
hanya kecil di Madinah namun kemudian bisa menjadi Negara adidaya, tak lepas
dari peran ekonomi syariah yang diembannya. Tanpa system ini, mustahil ekonomi
umat akan tumbuh, sehingga mereka mampu mengumpulkan kekuatan untuk menantang
Negara-negara adidaya yang telah berkuasa beberapa abad lamanya: Romawi dan
Persia.
Sejak Nabi
masih hidup, Negara sudah memiliki beberapa fungsi yang ada di zaman modern ini
ada di Departemen Keuangan (urusan penarikan zakat dan distribusinya),
Departemen Perdagangan (Urusan pengawasan pasar), Bulog (urusan penyangga
pangan), Departemen Sosial (urusan santunan bagi fakir miskin), hingga
Kementrian BUMN (urusan Industri strategis terkait pertahanan). Fungsi-fungsi
ini terus terjaga sepanjang sejarah khilafah, bahkan makin diperkuat baik dalam
bentuk organisasinya maupun fisiknya. [1]
Dalam Sistem Ekonomi Islam
kesejahteraan diukur berdasarkan prinsip pemenuhan kebutukan setiap individu
masyarakat, bukan atas dasar penawaran dan permintaan, pertumbuhan ekonomi,
cadangan devisa, nilai mata uang ataupun indeks harga-harga di pasar non-rill.
Inilah system ekonomi islam yang benar-benar akan menjamin kesejahteraan
masyarakat dan bebas dari guncangan krisis ekonomi. Sistem ini telah terbukti
menciptakan kesejahteraan umat manusia tanpa harus berhadapan dengan krisis
ekonomi yang secara berkala menimpa, sebagaimana dialami system ekonomi system
ekonomi kapitalisme.
Pada masa Khilafah Umar bin
al-Khaththab mampu menggaji guru di Madinah masing-masing 15 dinar (1
dinar=4,25 gr emas).[2]
Pada masa Khilafah Umar bin al-Khaththab ini hanya dalam 10 tahun masa
pemerintahannya, kesejahteraan merata ke segenap penjuru negri. Pada masanya,
di Yaman, misalnya, Muadz bin Jabal sampai kesulitan menemukan seorang miskin
pun yang layak diberi zakat.[3]
Lalu padamasa Khilafah Umar bin Abdul
Aziz (99-102 H/818-820 M). Meskipun masa kekhilafahannya cukup singkat (hanya 3
tahun), umat islam terus mengenangnya sebagai khalifah yang berhasil menyejahterakan
rakyat. Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu, berkata, “ketika hendak
membagikan zakat, saya tidak menjumpai seorang miskin pun. Umar bin abdul Aziz
pun telah menjadikan setiap individu rakyat pada waktu itu berkecukupan.”[4]
Pada masanya, kemakmuran tidak hanya
ada di Afrika, tetapi juga merata di seluruh penjuru wilayah khilafah islam,
seperti Irak dan Basrah. Bagitu makmurnya rakyat, Gubernur Basrah saat itu
pernah mengiriim surat kepada Kholifah Umar bin Abdul Aziz, “semua rakyat hidup
sejahtera sampai saya sendiri khawatir mereka akan menjadi takabur dan
sombong.”[5]
Ketika Daulah Islam tegak dan
menerapkan ekonomi syariat, perdagangan global adalah salah satu sarana dakwah
yang efektif. Bahkan lewat para pedgang itulah antara lain dakwah islam sampai
ke nusantara, sehingga kerajaan hindu terbesar (yaitu Majapahit) dapat berganti
menjadi beberapa kesultanan islam.
Begitulah sejarah perekonomian kaum
muslim pada masa lalu. Sejarah emas itu bisa diwujudkan lagi melalui penerapan
sisten Ekonomi Islam dalam institusi Khilafah Rasidah.
Minggu, 17 Juni 2012
PRIA DAN WANITA
By NuO
Pokonyang
Allah SWT berfirman :
“Hai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (TQS. Al-Hujurat : 13)
“Dan tidaklah aku menciptakan jin
dan manusia selain untuk beribadah kepadaKu.”
(TQS. Adz-Dzariyat : 56)
“Bersegeralah kalian melakukan
amal shalih. Sebab, akan datang fitnah-fitnah laksana malam yang kelam. Seorang
beriman pada pagi hari, namun menjadi kafir pada sore harinya. Beriman pada
sore hari, kafir pada keesokan harinya.” (HR. Bukhari).
Jelas sekali
Allah al-Khaliq, Sang pencipta manusia menetapkan bahwa keberadanan manusia
didunia ini hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Padahal, ibadah itu maknanya tha’atullah
wa khudhu’un lahu waltizamu ma syara’ahu minad din. Yaitu taat kepada
Allah, tunduk dan patuh kepada-Nya serta terikat dengan aturan agama yang
disyariatkan-Nya.[1]
Allah SWT telah menyeru manusia dengan berbagai taklif(beban hukum). Manusia
telah dijadikan-Nya sebagai sasaran khithab (seruan) dan taklif.
Allah telah
menetapkan manusia, baik pria maupun wanita, dengan suatu fitrah tertentu yang
berbeda dengan hewan. Baik wanita dan pria tidak berbeda dari lainnya dalam
aspek kemanusiaan. Allah telah menetapkan bahwa kelestarian jenis manusia
bergantung pada interaksi keduanya dan keberadaan keduanya dalam masyarakat.
Allah telah menciptakan pada masing-masingnya potensi kehidupan. Pemahaman
mengenai potensi kehidupan inilah yang akan menentukan pemahaman selanjutnya
tentang apa dan bagaimana manusia seharusnya melakukan aktivitasnya.[2]
Yakni kebutuhan jasmani (hajat udhwiyyah) seperti rasa lapar, dahaga, buang
hajat; serta berbagai naluri, yaitu naluri mempertahankan diri (gharizah
baqa’), naluri melestarikan keturunan (gharizah nau’), dan naluri beragama
(gharizah tadayyun). Kebutuhan jasmani dan naluri-naluri ini ada pada
masing-masing jenis kelamin. Allah juga menjadikan pada keduanya daya pikir
atau akal yang terdapat pada pria dan juga wanita. Karena akal yang diciptakan
Allah adalah akal manusia bukan akal pria atau akal wanita saja. Namun, perlu
difahami bahwa ada perbedaan antara naluri dengan kebutuhan jasmani. Jika
kebutuhan jasmani timbul karena unsur internal akibat kerja organ tubuh
manusia, maka naluri timbul karena faktor eksternal. Yaitu realitas dan
pemikiran. Sebagai contoh adalah kasus Nabi Yusuf dan permaisuri raja yang
saling tertarik satu dengan yang lainnya karena adanya realitas. Bagi Nabi
Yusuf, wanita tersebut adalah realitas yang dapat mempengaruhi gharizah
nau’-nya.[3]
Sekaliapun
naluri melestarikan jenis dapat dipuaskan oleh manusia dnegan sesama jenisnya,
tetapi cara semacam itu tidak akan mungkin mewujudkan tujuan diciptakannya
naluri tersebut kecuali pada satu kondisi saja, yaitu pemuasan naluri tersebut
oleh seorang wanita dengan seorang pria atau sebaliknya. Hubungan pria-wanita
dari segi naluri seksual adalah hubungan yang alamiah dan bukan merupakan hal
yang aneh. Dari sinilah harus diwujudkan pemahaman tertentu mengenai naluri
melestarikan jenis dan tujuan penciptaannya dalam diri manusia. Yakni
melahirkan anak dalam rangka melestarikan jenis manusia. Pandangan seperti
inilah yang akan mampu mempertahankan naluri seksual dan menempatkannya secara
benar pada tujuan penciptaannya. Atas dasar ini, harus ditegaskan perlunya
mengubah secara total padangan masyarakat mengenai hubungan pria-wanita.
Diharapkan pula pengubahan pandangan ini akan menghapus pemahaman yang
membatasi hubungan itu sebagai hubungan yang berfokus pada kenikmatan dan
kelezatan semata, dan menghilangkan dominasi pemahaman yang hanya berorientasi
pada hubungan seksual. Pandangan ini harus selalu didominasi oleh ketakwaan
kepada Allah SWT, sebagai suatu bentuk kenikmatan yang dibenarkan oleh syariah,
mampu melestarikan keturunan, dan selaras dengan tujuan tertinggi seorang
Muslim, yaitu mendapatkan keridhaan Allah SWT.
Ayat-ayat
al-Qur’an datang dengan memfokuskan maknanya pada kehidupan suami-isteri, yakni
pada tujuan penciptaan naluri melestarikan jenis (gharizah nau’). Ayat-ayat
tersebut menjelaskan bahwa pada dasarnya naluri tersebut diciptakan untuk
kehidupan suami-isteri, maksudanya untuk melestarikan keturunan. Dengan kata
lain, naluri ini semata-mata diciptakan Allah SWT demi kehidupan
bersuami-isteri saja. Agar pandangan masyarakat terhadap hubungan pria dan
wanita terbatas pada kehidupan suami-isteri saja, bukan pada hubungan seksual
pria dan wanita. Allah SWT berfirman :
“Hai sekalian manusia,
bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu,
dan darinya Allah menciptakan isterinya, dan dari keduanya Allah
memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (TQS. An-Nisa :
1)
“Dan bahwasanya Dialah yang
menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, dari air mani apabila
dipancarkan.” (TQS. An-Najm : 45-46).
“Dan kami jadikan kamu
berpasang-pasangan.” (TQS. An-Naba’: 8).
“Dan diantara tanda-tanda
kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri,
supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara
kamu rasa kasih dan sayang.” (TQS. Ar-Rum : 21).
Allah
SWT menegaskan bahwa penciptaan laki-laki dan perempuan sebagai mahluk adalah
dalam kehidupan suami-isteri. Allah mengulang-ulang hal ini hingga pandangan
mengenai hubungan pria dan wanita harus selalu difokuskan pada kehidupan
suami-isteri saja, yaitu untuk melahirkan anak demi melestarikan jenis manusia.
Wallahu a’lam bissawab.
NB : Materi yang dipresentasikan
dalam ziyadah kelompok. sumber utama materi adalah kitab Nisdam Ijtima'i.
Senin, 06 Februari 2012
First Posting
Untuk para teman-teman blogger yang sudah dan belum pernah saya temui, ini posting pertama saya.
Di blog ini akan saya isi dengan ide-ide yang keluar dari otak saya.
Semoga bermanfaat. Ja naa...
Di blog ini akan saya isi dengan ide-ide yang keluar dari otak saya.
Semoga bermanfaat. Ja naa...
Langganan:
Postingan (Atom)










