Kamis, 18 Oktober 2012


BUKAN SUMPAH PEMUDA.


Setiap orang Indonesia yang update dengan tanggalan yang ada dirumahnya, pasti tahu hal yang bersangkutan dengan bulan ini. Tidak tahu juga tidak apa-apa, toh ngga masuk dalam Ujian Nasional. Hahaha. Karena aku orangnya baek, jadi akan aku beritahu hal terkait bulan ini. Yapz, tepat tanggal 10 oktober akan diperingati hari Sumpah Pemuda. Sumpah yang katanya sumpah suci Pemuda Indonesia.
Sayangnya, aku tidak akan membahas hal-hal terkait Sumpah Pemuda. Alasan pertama, karena aku bukan ahli sejarah. Bukan tidak suka dengan sejarah, hanya malas membaca sejarah yang isinya penuh dengan kebohongan. Alasan kedua, karena tulisanku ini bukan tentang Sumpah Pemuda. Sesuai judul diatas. Bukan Sumpah Pemuda. Tapi, tulisanku hanya terkait tentang peran penting yang dilupakan pemuda. Tentang apa sieh, alasan sebenarnya dia hidup. Khususnya  sebagai Pemuda. Karena sebagian Pemuda ada yang tidak tahu, jadi kusarankan untuk membaca tulisanku ini. Dan untuk pemuda yang sudah tahu alasann hidupnya, kusarankan juga untuk membaca tulisanku. Karena aku sudah sengaja meluangkan waktuku untuk membuat tulisan untuk kalian baca. Bukan memaksa, hanya menyarankan.
Baiklah, basi-basanya cukup sampai sini. Tidak bisa dipungkiri, sebagian besar Pemuda Indonesia tidak bisa dijadikan penerus generasi. Terlalu banyak gelar negatif yang disandangkan pada namanya. Bukan karena dia sebagai korban, tapi karena memang mereka pelaku utamanya. Dan mirisnya, mereka sadar dan tidak dalam keadaan terpaksa dengan apa yang mereka lakukan. Mulai dari aktivis pergaulan bebas, pemberontak, tauran, pecandu obat-obat terlarang, pembolos, pemalas dan lain sebagainya. Pemuda seperti ini yang akan melanjutkan peradaban? Apa kata dunia??? Generasi yang seharusnya menjadi pemimpin peradaban, malah menjadi sampah peradaban. Kehadirannya hanya akan menambah rusak peradaban yang telah dirusak oleh orang-orang sebelum mereka. Nauzubillah min zallik.
Satu hal yang penting dan mendasar untuk ditanamkan dalam kehidupan seorang Muslim sejak awal adalah penanaman aqidah. Karena merupakan konsekuensi dari keyakinan pada aqidah Islam.
Pemuda yang memiliki idealisme adalah pribadi tangguh, yang memiliki kepribadian Islam. Berpikir Islami dan berperilaku dengan standar hukum-hukum Allah. Dengan modal ini, kalian akan mampu mengarungi hidup ini dengan benar dan membawa kemaslahatan. Sayangnya, hal itu tidak bisa teraplikasikan tanpa sistem yang mendukung. Sudah menjadi rahasia umum tentang bobroknya sistem yang menyelimuti kita. Sistem yang menjadikan orang-orang didalamnya melakukan kesalahan namun tidak merasa kalau itu sebuah kesalahan.
Sudah seharusnya kita menjadi pemuda Muslim terbaik, menyeru kejalan Allah (dakwah), beramal sholeh dan bangga berjati diri Islam serta mampu mempertanggung jawabkan dirinya dihadapan Allah. Wallahu alam.
   




Kamis, 11 Oktober 2012


Balon Galau
Buah karya Parangteris yang di publikasikan di mading LPM



                Beberapa hari yang lalu-entah kapan-seorang akhwat dilanda kebingungan. Mungkin bahasa kerennya ‘galau’. Kenapa? Karena penasaran dengan lagu anak TK yang telah dilupakannya. Saking penasarannya, dia memburu kebenaran tersebut. Begini kisahnya;
(untuk keamanan, nama akhwat yang terlibat disamarkan dengan nama pena anak LPM Inqilabi)
                Sebut saja namanya Anak Panah. Anak panah baru selesai menonton acara televise stand up komedi. Salah satu materi yang disampaikan membuat dia galau.
                “Tau ngga sih, anak Indonesia sudah dibuat galau sejak mereka kecil?” katanya kepada teman-teman seasrama.
                “Dibuat galau?” Tanya Breakfast dengan alis berkerut.
                “Ya.” Jawab Anak Panah Mantap. Dari gelagatnya, sepertinya dia akan berorasi. “Coba deh kalian nyanyiin lagu Balonku ada 5? Lagu itu membuat galau.”
                Delik heran. Karena penasaran, dia pun menyanyikan lagu anak TK tersebut. Dengan suara cemprengnya, dia mulai mengeluarkan suara.
                “Balonku ada lima. Rupa-rupa warnanya. Merah, kuning, kelabu, merah muda dan biru. Meletus balon hijau-“
                “DOR!!!” Anak Panah tiba-tiba menghentikannya. “Warna hijaunya dari mana?!” tanyanya langsung. Berarti balonnya ada enam, kan? Bukan lima! Galau kan tuh lagu?” sambungnya.
                Entah kenapa, delapan akhwat yang berkumpul menyanyikan lagu itu bareng-bareng. Dibandingkan dengan tugas kuliah yang menumpuk, mereka lebih peduli dengan lagu anak TK tersebut. Mungkin karena masa kecil mereka kurang bahagia.
                Akhirnya ada yang mendapat lampu terang.
                “A-ha. Aku tahu.” Kata Bintul Kalam. “Dengar, ya?” perintahnya. “Balonku ada lima. Rupa-rupa warnanya. Merah, kuning, kelabu, hijau muda dan biru. Meletus balon hijau. DOR!” dendangnya dengan suara sumbang yang mengenaskan. “Ada warna hijaunya, kan?”
                “Apanya yang hijau!” protes Syam’ah Pen. “Yang meletuskan warna hijau. Bukan hijau muda. Walaupun sama-sama warna hijau, tapi tetap aja beda.”
                “Iya.” Gubris Parangteris. “Masa lagunya jadi; balonku ada lima. Rupa-rupa warnanya. Merah, kuning, kelabu, hijau muda dan biru. Meletus balon hijau muda, DOR! Jelek banget, kan?” sambungnya. Tapi, yang lebih jelek lagi adalah suaranya.
                Semuanya ribut. Kamar yang hanya mampu menampung empat orang itu, risuh dengan suara sumbang akhwat-akhwat yang dibuat galau dengan lagu anak TK. Dan ternyata, lagu itu jauh lebih menarik dari pada konser Noah 5 negara.
                “Dari pada bingung, lebih baik kita cari lirik aslinya.” Kata Regae mengeluarkan pendapat. “Siapa pencipta lagunya?” tanyanya kepada yang lain.
                Dengan bantuan mbah google, Regae mencari lirik asli dari balonku ada lima. Dan akhirnya, liriknya keluar.
                Balonku ada lima. Rupa-rupa warnanya.
                Hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru.
                Meletus balon hijau, DOR!  
                “Oooooo…begitu.” Kata mereka semua dalam satu suara.
                “Segala sesuatu, memang harus dikembalikan kepada penciptanya.” Celetuk Marjan. “karena pencipta yang lebih tahu tentang ciptaannya.”

                Benar. Jika lagu balonku ada lima tidak dikembalikan kepada penciptanya, membuat sebagian akhwat Hamfara pada galau, apalagi yang jangkauannya lebih luas. Lihatlah apa yang terjadi dengan dunia sekarang. Sistem yang diterapkan didunia tidak dikembalikan kepada pencipta manusia, membuat bukan hanya sebagian tapi seluruh umat manusia sengsara. Lebih dari galau. Genosida diRohingya, Rohis dicap teroris, kelaparan dimana-mana, pengangguran seperti jamur dimusim penghujan, jamaah korupsi lebih banyak dari jamaah sholat jum’at, prostitusi dilegalkan, pergaulan bebas dianggap wajar dan lainnya.
                Dapat ditarik kesimpulan, jika ingin membuat dunia ini sejahtera-bukan hanya dirasakan oleh manusia, tapi juga hewan dan tumbuhan-maka, kembalikan segala sesuatu kepada penciptanya. Pencipta manusia, jagat raya dan isinya. Allah SWT. Oleh Karena itu, maka terapkan system yang telah ditetapkan oleh Pencipta manusia.
                Jadi……..aku, kamu dan kalian semua harus bilang “WOW. We need Khilafah.” Tapi, jangan hanya bilang. Buktikan dan lakukan!  
  
                     

Senin, 20 Agustus 2012

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
Saudaraku seiman, semoga Allah menyinari hatimu setiap kali terbenam matahari dan bulan
semoga Allah menghilangkan kegalauanmu setiap kali gelombang ujian menerjang.
semoga Allah menjadikan keturunanmu seperti Abu Bakar dan Umar
semoga Allah memperbanyak orang-orang yang dicintai olehmu dan mencintaimu karena Allah,
serta sepanjang tahun kau selalu dalam keadaan baik.
Semoga pasca Ramadhan semakin mengokohkan perjuangan kita untuk tegaknya syariah dalam bingkai Khilafah. Allahu akbar!!!
Minal aidzin wal faidzin.
Mohon maaf lahir dan batin.
Selamat hari Raya Idul Fitri 1433 H.


Sabtu, 14 Juli 2012


Kesejahteraan Ekonomi Masa Khilafah


Perkembangan Daulah Islam yang semula hanya kecil di Madinah namun kemudian bisa menjadi Negara adidaya, tak lepas dari peran ekonomi syariah yang diembannya. Tanpa system ini, mustahil ekonomi umat akan tumbuh, sehingga mereka mampu mengumpulkan kekuatan untuk menantang Negara-negara adidaya yang telah berkuasa beberapa abad lamanya: Romawi dan Persia.
Sejak Nabi masih hidup, Negara sudah memiliki beberapa fungsi yang ada di zaman modern ini ada di Departemen Keuangan (urusan penarikan zakat dan distribusinya), Departemen Perdagangan (Urusan pengawasan pasar), Bulog (urusan penyangga pangan), Departemen Sosial (urusan santunan bagi fakir miskin), hingga Kementrian BUMN (urusan Industri strategis terkait pertahanan). Fungsi-fungsi ini terus terjaga sepanjang sejarah khilafah, bahkan makin diperkuat baik dalam bentuk organisasinya maupun fisiknya. [1]
Dalam Sistem Ekonomi Islam kesejahteraan diukur berdasarkan prinsip pemenuhan kebutukan setiap individu masyarakat, bukan atas dasar penawaran dan permintaan, pertumbuhan ekonomi, cadangan devisa, nilai mata uang ataupun indeks harga-harga di pasar non-rill. Inilah system ekonomi islam yang benar-benar akan menjamin kesejahteraan masyarakat dan bebas dari guncangan krisis ekonomi. Sistem ini telah terbukti menciptakan kesejahteraan umat manusia tanpa harus berhadapan dengan krisis ekonomi yang secara berkala menimpa, sebagaimana dialami system ekonomi system ekonomi kapitalisme.
Pada masa Khilafah Umar bin al-Khaththab mampu menggaji guru di Madinah masing-masing 15 dinar (1 dinar=4,25 gr emas).[2] Pada masa Khilafah Umar bin al-Khaththab ini hanya dalam 10 tahun masa pemerintahannya, kesejahteraan merata ke segenap penjuru negri. Pada masanya, di Yaman, misalnya, Muadz bin Jabal sampai kesulitan menemukan seorang miskin pun yang layak diberi zakat.[3]
Lalu padamasa Khilafah Umar bin Abdul Aziz (99-102 H/818-820 M). Meskipun masa kekhilafahannya cukup singkat (hanya 3 tahun), umat islam terus mengenangnya sebagai khalifah yang berhasil menyejahterakan rakyat. Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu, berkata, “ketika hendak membagikan zakat, saya tidak menjumpai seorang miskin pun. Umar bin abdul Aziz pun telah menjadikan setiap individu rakyat pada waktu itu berkecukupan.”[4]
Pada masanya, kemakmuran tidak hanya ada di Afrika, tetapi juga merata di seluruh penjuru wilayah khilafah islam, seperti Irak dan Basrah. Bagitu makmurnya rakyat, Gubernur Basrah saat itu pernah mengiriim surat kepada Kholifah Umar bin Abdul Aziz, “semua rakyat hidup sejahtera sampai saya sendiri khawatir mereka akan menjadi takabur dan sombong.”[5]
Ketika Daulah Islam tegak dan menerapkan ekonomi syariat, perdagangan global adalah salah satu sarana dakwah yang efektif. Bahkan lewat para pedgang itulah antara lain dakwah islam sampai ke nusantara, sehingga kerajaan hindu terbesar (yaitu Majapahit) dapat berganti menjadi beberapa kesultanan islam.
Begitulah sejarah perekonomian kaum muslim pada masa lalu. Sejarah emas itu bisa diwujudkan lagi melalui penerapan sisten Ekonomi Islam dalam institusi Khilafah Rasidah.



[1] Dr.-Ing. Fahmi Amhar, TSQ Stories. Hlm. 126
[2] Ash-Shinnawi, 2006
[3] Abu Ubaid, Al-Amwal, hal. 596
[4] Ibnu Abdil Hakam, Sirah ‘Umar bin Abdul aziz, hal.59
[5] Abu Ubaid, Al-Amwal, hal.256

Minggu, 17 Juni 2012


PRIA DAN WANITA
By NuO Pokonyang
Allah SWT berfirman :
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (TQS. Al-Hujurat   : 13)
“Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepadaKu.” (TQS. Adz-Dzariyat : 56)
Bersegeralah kalian melakukan amal shalih. Sebab, akan datang fitnah-fitnah laksana malam yang kelam. Seorang beriman pada pagi hari, namun menjadi kafir pada sore harinya. Beriman pada sore hari, kafir pada keesokan harinya.” (HR. Bukhari).
Jelas sekali Allah al-Khaliq, Sang pencipta manusia menetapkan bahwa keberadanan manusia didunia ini hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Padahal, ibadah itu maknanya tha’atullah wa khudhu’un lahu waltizamu ma syara’ahu minad din. Yaitu taat kepada Allah, tunduk dan patuh kepada-Nya serta terikat dengan aturan agama yang disyariatkan-Nya.[1] Allah SWT telah menyeru manusia dengan berbagai taklif(beban hukum). Manusia telah dijadikan-Nya sebagai sasaran khithab (seruan) dan taklif.
Allah telah menetapkan manusia, baik pria maupun wanita, dengan suatu fitrah tertentu yang berbeda dengan hewan. Baik wanita dan pria tidak berbeda dari lainnya dalam aspek kemanusiaan. Allah telah menetapkan bahwa kelestarian jenis manusia bergantung pada interaksi keduanya dan keberadaan keduanya dalam masyarakat. Allah telah menciptakan pada masing-masingnya potensi kehidupan. Pemahaman mengenai potensi kehidupan inilah yang akan menentukan pemahaman selanjutnya tentang apa dan bagaimana manusia seharusnya melakukan aktivitasnya.[2] Yakni kebutuhan jasmani (hajat udhwiyyah) seperti rasa lapar, dahaga, buang hajat; serta berbagai naluri, yaitu naluri mempertahankan diri (gharizah baqa’), naluri melestarikan keturunan (gharizah nau’), dan naluri beragama (gharizah tadayyun). Kebutuhan jasmani dan naluri-naluri ini ada pada masing-masing jenis kelamin. Allah juga menjadikan pada keduanya daya pikir atau akal yang terdapat pada pria dan juga wanita. Karena akal yang diciptakan Allah adalah akal manusia bukan akal pria atau akal wanita saja. Namun, perlu difahami bahwa ada perbedaan antara naluri dengan kebutuhan jasmani. Jika kebutuhan jasmani timbul karena unsur internal akibat kerja organ tubuh manusia, maka naluri timbul karena faktor eksternal. Yaitu realitas dan pemikiran. Sebagai contoh adalah kasus Nabi Yusuf dan permaisuri raja yang saling tertarik satu dengan yang lainnya karena adanya realitas. Bagi Nabi Yusuf, wanita tersebut adalah realitas yang dapat mempengaruhi gharizah nau’-nya.[3]
Sekaliapun naluri melestarikan jenis dapat dipuaskan oleh manusia dnegan sesama jenisnya, tetapi cara semacam itu tidak akan mungkin mewujudkan tujuan diciptakannya naluri tersebut kecuali pada satu kondisi saja, yaitu pemuasan naluri tersebut oleh seorang wanita dengan seorang pria atau sebaliknya. Hubungan pria-wanita dari segi naluri seksual adalah hubungan yang alamiah dan bukan merupakan hal yang aneh. Dari sinilah harus diwujudkan pemahaman tertentu mengenai naluri melestarikan jenis dan tujuan penciptaannya dalam diri manusia. Yakni melahirkan anak dalam rangka melestarikan jenis manusia. Pandangan seperti inilah yang akan mampu mempertahankan naluri seksual dan menempatkannya secara benar pada tujuan penciptaannya. Atas dasar ini, harus ditegaskan perlunya mengubah secara total padangan masyarakat mengenai hubungan pria-wanita. Diharapkan pula pengubahan pandangan ini akan menghapus pemahaman yang membatasi hubungan itu sebagai hubungan yang berfokus pada kenikmatan dan kelezatan semata, dan menghilangkan dominasi pemahaman yang hanya berorientasi pada hubungan seksual. Pandangan ini harus selalu didominasi oleh ketakwaan kepada Allah SWT, sebagai suatu bentuk kenikmatan yang dibenarkan oleh syariah, mampu melestarikan keturunan, dan selaras dengan tujuan tertinggi seorang Muslim, yaitu mendapatkan keridhaan Allah SWT.
Ayat-ayat al-Qur’an datang dengan memfokuskan maknanya pada kehidupan suami-isteri, yakni pada tujuan penciptaan naluri melestarikan jenis (gharizah nau’). Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa pada dasarnya naluri tersebut diciptakan untuk kehidupan suami-isteri, maksudanya untuk melestarikan keturunan. Dengan kata lain, naluri ini semata-mata diciptakan Allah SWT demi kehidupan bersuami-isteri saja. Agar pandangan masyarakat terhadap hubungan pria dan wanita terbatas pada kehidupan suami-isteri saja, bukan pada hubungan seksual pria dan wanita. Allah SWT berfirman :
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan isterinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (TQS. An-Nisa : 1)
Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, dari air mani apabila dipancarkan.” (TQS. An-Najm : 45-46).
Dan kami jadikan kamu berpasang-pasangan.” (TQS. An-Naba’: 8).
Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih dan sayang.” (TQS. Ar-Rum : 21).
            Allah SWT menegaskan bahwa penciptaan laki-laki dan perempuan sebagai mahluk adalah dalam kehidupan suami-isteri. Allah mengulang-ulang hal ini hingga pandangan mengenai hubungan pria dan wanita harus selalu difokuskan pada kehidupan suami-isteri saja, yaitu untuk melahirkan anak demi melestarikan jenis manusia.
Wallahu a’lam bissawab.

NB : Materi yang dipresentasikan dalam ziyadah kelompok. sumber utama materi adalah kitab Nisdam Ijtima'i.


[1] Menjadi pembela Islam hal 5
[2] Islam Politik dan Spiritual hal 44
[3] Islam Politik dan Spiritual

Senin, 06 Februari 2012

First Posting

Untuk para teman-teman blogger yang sudah dan belum pernah saya temui, ini posting pertama saya.
Di blog ini akan saya isi dengan ide-ide yang keluar dari otak saya.
Semoga bermanfaat. Ja naa...